Berbagi Pengalaman dan Strategi Pemenangan dalam Rembug Perempuan Caleg 2019 di DIY

Category: Advokasi Hak Ekosob, Analisa 29 0
Pelaksanaan Rembug Perempuan Caleg 2019, di Hotel Arjuna, Rabu (07/11)

Yogyakarta, IDEA – Rembug Perempuaan Calon Legislatif 2019 se Kabupaten/kota serta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta akhirnya sukses dilaksanakan di Hotel Arjuna Yogyakarta, Rabu (07/11). Rembug yang diselenggarakan oleh IDEA Yogyakarta bersama dengan International Republican Institute (IRI), dan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) ini bertajuk Menang Bersama Perempuan: Perempuan Bersuara, Media Mewartakan.  Selain melibatkan seluruh perwakilan calon legislatif se Kabupaten/kota serta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, rembug perempuan legislatif ini jugaa melibatkan organisasi masyarakat sipil, Media Massa, dan Tokoh pendukung perempuan dalam politik.

Setidaknya ada enam tujuan utama diselenggarakannya Dialog “Menang Bersama Perempuan” ini. Keenam tujuan tersebut dibagi menjadi tujuan Jangka pendek, jangka menengah dan panjang.

Jangka pendeknya, dialog ini bertujuan agar caleg Perempuan dan Media serta LSM dan stakeholders lain saling mengenal dengan lebih baik serta ada kesepahaman antara media dengan  perempuan caleg  tentang ruang khusus bagi perempuan di media sebagai langkah affirmative action.

Jangka menengahnya, Perempuan Caleg dapat berkesempatan menyampaikan gagasan/program dan alasan mengapa mereka layak dipilih serta Media mengcover berita/cerita tentang caleg perempuan; LSM melakukan advokasi dan kampanye untuk peningkatan keterpilihan caleg perempuan. Sementara tujuan Jangka panjangnya, masyarakat mengenali lebih dalam perempuan Caleg yang berkontestasi di Pemilu 2019 kemudian memilih perempuan sebagai legislator yang mampu mengartikulasikan kepentingan masyarakat,  kelompok rentan dan marginal.

Karena itu, sangat penting kemudian mendekatkan perempuan kepada media dan mendekatkan media kepada perempuan caleg. Upaya ini dilakukan untuk mengenalkan perempuan caleg kepada masyarakat melalui isu-isu pembangunan dan pelayanan publik yang dekat dengan masyarakat. Ide dan gagasan perempuan caleg penting untuk menjadi bagian dari nformasi yang layak diberitakan oleh jurnalis.

Rembug ini diawali dengan paparan pegiat IDEA, Triwahyuni Suci Wulandari tentang hasil analisis IDEA terhadap Daftar calon tetap legislative yang  akan berkontestasi di bulan april 2019 nanti.

Menurut Suci, jumlah caleg perempuan dan caleg laki-laki pada DPRD DIY dan Kab/kota se DIY sebanyak 2.829 orang. Dengan jumlah caleg perempuan sebanyak 1.239 orang. Artinya, caleg laki-laki masih mendominasi pencalonan di pemilu 2019.

Meski begitu, dalam kajian IDEA, keterwakilan perempuan dalam Daftar Calon Tetap sudah lebih dari 30%, yang artinya secara kuantitatif parpol mampu memenuhi pencalonan 30% sebagaimana amanat UU No 7 tahun 2017.

Kajian IDEA juga menemukan, bahwa beberapa partai sudah melakukan terobosan dengan memberikan afirmative action bagi kelompok rentan, hal itu terbukti dari adanya perempuan difabel yang caleg masuk dalam DCT.  Dalam kajian IDEA, setidaknya ada tiga kandidat perempuan caleg difabel dari DIY yaitu 1 caleg DPRRI dari Nasdem, 1 Caleg DPRD DIY dari PSI dan 1 Caleg DPRD Kab. Kulon Progo dari PDIP.

Sedangkan untuk urutan jumlah keterwakilan perempuan di 16 parpol dalam DCT DPRD se DIY tertinggi dipenuhi oleh partai Golkar dan Demokrat, dengan jumlah masing-masing sejumlah 119 orang, selanjutnya PAN 116 orang, PKB 114 orang sedangkan posisi ke 5 ditempati PDIP sebanyak 112 orang. Sayangnya, dari sekian jumlah tersebut, motivasi perempuan untuk maju masih didominasi spirit untuk memenuhi kuota keterwakilan perempuan.

Baca juga: ‘Dialog Perempuan’ Refleksikan Peran Perempuan Parlemen

Selanjutnya, pegiat IDEA yang lain, Wasingatu Zakiyah menfasilitatori rembug yang membahas seputar tantangan, peluang, kelemahan, serta kelebihan para perempuan caleg.

Rembug ini disambut antusias oleh seluruh perempuan caleg, termasuk KPU, Bawaslu dan Pemerintah yang diwakili BPPM. Antusiasme tersebut dibuktikan dengan banyaknya perempuan caleg yang berbagi pengalaman, tantangan, serta keterbukaan mengakui kelemahan yang dimilikinya. Para perempuan caleg juga tak segan berbagi strategi dan memotivasi satu sama lain, agar siap menghadapi kontestasi pemilu legislatif 2019 nanti.

Dari sekian pendapat perempuan caleg, setidaknya ada empat hal yang diklasifikasi oleh Wasingatu Zakiyah, selaku Fasilitator.  Keempatnya meliputi kelemahan, kekuatan, peluang serta tantangan yang dialami dilapangan oleh para perempuan caleg. Selengkapnya seperti dalam tabel berikut.

Kelemahan Kekuatan Peluang Tantangan
–          Perempuan sering dikhianati proses yang ada.

–          Black campaign ke perempuan

–          Belum punya keahlian mengemas isu

–          Ada yang kurang percaya diri

–          Quenn be syndrome (perempuan tidak mau saling memberikan dukungan kepada perempuan)

–          Persaingan yperng baru dengan perempuan incumbent

–          Ada yang hanya datang saat kampanye

–           

 

–          Modal jaringan sosial

–          Perempuan mampu menjawab keluhan ekonomi ibu-ibu

–          Memiliki kapasitas dalam isu-isu tertentu yang dekat dengan masyarakat

–          Punya visi-misi dan strategi yang dekat dengan masyarakat 

–           Jeli mengembangkan metode komunikasi

–          Bawa pengeras suara  untuk event tertentu yang ada masyarakat

–          Yakin terhadap diri sendiri

–          Perempuan punya mindset yang positive

–          Adanya komitmen mengedukasi masyarakat

–          Tidak menjadimasalah berada di nomor manapun. bahkan ada yang memilih nomor buntut karena mudah kampanyenya.

–    Minta dukungan tokoh

–    Buat program yang menjawab persoalan

–    Ada tim yang solid

–    Disabilitas selama ini hanya menjadi obyek dibalik menjadi subyek

–    Buat materi kampanye yang berbeda dari  yang biasa.

–          Pileg di nomor 2 kan  daripada pilpres

–           

–          Bangun trust ke masyarakat

–          Masyarakat masih bertanya wani piro, itung biting

–          Masyarakat pragmatis

–          Ada aturan di partai, tidak boleh menggandeng caleg partai lain untuk kampanye

–          Belum semua masyarakat melek isu disabilitas

–          Isu inklusi dianggap sektoral

–          Laporan penyimpangan tidak diblow-up

–          Sterotype bahwa perempuan tidak mampu

–          Sistem proporsiaonla terbuka

–          Cost politic tinggi.

–          Partai menempatkan nomor 1 adalah incumbent

–          Masyarakat minta program yang nyata, tidak mau omong doang..

–           

Nelly Tristiana, perwakilan pemerintah DIY bagian kepala bidang pemeberdayaan perempuan, BPPM DIY mengatakan, bahwa sangat penting untuk meningkatkan indeks pembangunan gender DIY yang masih jauh dibawah rata-rata nasional. Dukungan untuk mendorong langkah affirmative ini salah satunya adalah fasilitasi kembali kepada para caleg perempuan di banyak momentum, salah satunya hari ibu.  Hal tersebut, menurut Nelly untuk menguatkan konsentrasi dalam merumuskan strategi pemenangan melalui program-program yang selaras dengan target pemerintah seperti SDGs, dan strategi lain yang jitu untuk pemenangan perempuan.

Pemerintah, kata Nelly, juga akan melakukan voters education melalui program pemilih cerdas agar memilih berdasarkan visi-misi serta komitmen yang dibangun, bukan berdasarkan uang atau money politic sesaat

Sementara itu, anggota Komisi Pemilihan Umum Kulonprogo, Hidayatuttoyyibah, mengingatkan kepada perempuan caleg untuk memastikan orang yang memilih masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT). Dirinya juga menghimbau soal pentingnya kehadiran perempuan dalam rapat-rapat umum atau kampanye terbuka yang akan digelar pada pertengahan Maret 2019. Untuk internal partai, Ida menyarankan agar laporan dana kampanye partai-partai sudah masuk. Menurutnya, penting bagi perempuan untuk bisa mengakses dana kampanye di setiap parpol, termasuk pentingnya mengawal surat suara setelah pencoblosan nanti.

Sedangkan, Badan Pengawas Pemilu DIY, yang saat itu diwakili anggotanya, Sutrisnawati, menyampaikan soal pentingnya para perempuan caleg untuk memahami regulasi yang ada, sehingga tidak akan terjebak. Dengan pemahaman dan kapasitas yang ada, sistem pemilu diharapkan  memiliki cara baru untuk melakukan strategi pemenangan.  Namun, Sutrisnowati menyesali, hingga 22 september, banyak parpol yang belum memanfaatkan peluang untuk membuka akun media sosial untuk kampanye para calegnya.

Kritik tajam terhadap perempuan caleg datang dari Media Massa Koran Bernas. Putu, selaku jurnalis Bernas, mengatakan bahwa selama ini Perempuan caleg justru menjauh dan kurang percaya diri berhadapan dengan media. Kesulitan media untuk mencari berita dari perempuan caleg dipercaya Putu tidak terjadi lagi apabila caleg seperti yang hadir di rembug ini paham dengan persoalan di lapangan. Putu menambahkan penting bagi perempuan caleg untuk memperdalam data, mencari data yang akurat sehingga berita yang disajikan ke masyarakat juga akurat. . Dirinya berharap hal ini tidak terjadi pada perempuan caleg yang terpilih nantinya.

Delima saragih, selaku perwakilan IRI, menyambut baik keputusan luar biasa  para perempuan untuk menjadi caleg. Menurutnya, tantangan kedepan yang akan dihapi oleh perempuan caleg ialah konstituen dari generasi millenial, karenanya kata Delima, peremuan caleg perlu lebih kreatif dalam melakukan kampanye dan berhadapan dengan calon pemilihnya. Delima sangat percaya bahwa perempuan lebih tahu masalah di masyarakat, lebih tahu urusan dapur sehingga paham masalah konstituten. Dirinya menyarakan agar perempuan caleg mampu menangkap masalah konstituen, sebab penting untuk menjadi bekal pemenangan.

Pendapat Delima diamini oleh oleh pegiat Narasita, Renny Frahesty. Menurut Reny, perempuan caleg harus menyiapkan strategi pemenangan sejak jauh-jauh hari. Salah satu upaya itu, kata Reny, ialah Perempuan Caleg menulis gagasan, pengalaman, hingga rencana yang akan dilakukan melalui media massa. Hal tersebut, menurutnya, dapat membantu perempuan caleg untuk dikenal publik.

Reny juga berpendapat soal pentingnya menuliskan orang-orang yang berpeluang memilih dan tidak memilih perempuan caleg. Alasannya ialah agar makin memperjelas rencana-rencana kedepan. Menurut Reny, terkadang Caleg baru sadar bahwa belum banyak yang dilakukan ketika daftar nama potensial pemilih sudah dibuat. Cara ini dilakukan untuk memastikan bahwa modal sosial bisa menjadi modal elektoral.

Setelah usai melakukan rembug dan sharing pengalaman, peserta dalam forum ini, yang terdiri dari perwakilan perempuan caleg, media massa, hingga organisasi masyarakat sipil menyepakati untuk melakukan deklarasi perempuan Caleg anti HOAX, anti SARA dan ujaran kebencian  sekaligus penandatanganan deklarasi untuk Pemilu bersih, damai dan bermartabat. Isi deklarasi tersebut ialah sebagai berikut.

  1. Menyadari bahwa hoax, SARA dan ujaran kebencian sudah merajalela dimasyarakat, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus dari seluruh elemen masyarakat
  2. Kami berjanji, tidak akan menyebarluaskan berita hoax, berita terkait isu SARA dan ujaran kebencian yang kami terima ke media sosial yang ada, demi terciptanya masyarakat yang damai.
  3. Kami meminta kepada pihak yang berwenang agar Pelaku hoax dan ujaran kebencian segera ditindak oleh pihak yang berwenang agar tidak terus menerus menyebarkan berita hoax, SARA dan ujaran kebencian.

Kontributor: WZ, TSW, AH

Editor: AH

Jadilah yang pertama membagikan kabar ini ^_^

Related Articles

Add Comment