Film ‘Menolak Diam’ Sukses Tayang di Yogyakarta

Category: JurASIK, Kampanye Anti Korupsi, Warta Korupsi 51 0
Suasana Nobar ‘Menolak Diam’ di SMK I Yogyakarta, Kamis (25/01)

Yogyakarta, IDEA – Pemutaran perdana film ‘Menolak Diam’ di Yogyakarta, Kamis (25/01) cukup sukses. Kegiatan yang terlaksana berkat kerjasama IDEA dan Transparency International Indonesia ini dilaksanakan di SMK I Yogyakarta dan Kedai Kebun Forum. SMK 1 Yogyakarta sendiri merupakan lokasi syuting utama dalam film ‘Menolak Diam’. Sekitar 150an lebih siswa SMK ini hadir menonton dan diskusi bersama. Kemeriahan yang sama juga terjadi di Kedai Kebun Forum, lokasi kedua pemutaran film ini. Tak kurang dari 60an peserta diskusi dari lintas pegiat antikorupsi menyemarakkan kegiatan ini.

Hadir langsung dalam nonton bareng ini, Emil Herradi selaku sutradara film, Nur Fajrin dari Transparency International Indonesia, serta Zed Makarim, salah satu aktor dalam film ini. Mereka sekaligus menjadi pembicara diskusi setelah nobar selesai. Sementara pemandu diskusi dalam kegiatan tersebut ialah Triwahyuni Suci dan Wasingatul Zakiyah, keduanya merupakan pegiat IDEA Yogyakarta.

Sunardi, Kepala sekolah SMK 1 Yogyakarta, yang turut hadir dalam nobar ini mengungkapkan, bahwa dirinya dan seluruh perangkat sekolah sangat apresiatif dengan karya film ini. Menurutnya ide film ini sangat cocok untuk menjadi inspirasi anak muda. “Saya sangat mengapresiasi, saya harap siswa-siswa sekalian juga mengapresiasi film ini. Idenya layak ditiru anak muda,” katanya, saat memberi sambutan.

Menurut pengakuan Nur Fajrin, latar belakang dibuatnya film ini ialah sebagai bentuk perlawanan terhadap perilaku korupsi. Selain film, TI Indonesia juga melakukan kampanye perlawanan korupsi lewat mural. Hanya saja, menurutnya, film memiliki tempat sendiri bagi generasi muda. “Film merupakan kampanye kreatif melawan korupsi, ‘Menolak Diam’ merupakan antologi film antikorupsi yang kita buat setelah Kita VS Korupsi,” ujarnya.

Nur Fajrin berharap, setelah proses roadshow pemutaran lintas daerah dan kota selesai, banyak pegiat dan aktivis antikorupsi melakukan pemuataran dan diskusi di komuniatasnya masing-masing. Menurutnya, lembaganya siap untuk diajak kerjasama, termasuk mendistribusikan DVD setelah diproduksi. “Film ini boleh diputar di sekolah-sekolah maupun di komunitas pegiat antikosupsi. Justu itu sangat kita harapkan. Dalam waktu dekat akan kita produksi DVDnya.” katanya.

Terkait ide dalam film ini, Sutradara film, Emil Herradi mengungkapkan bahwa Idenya muncul dari kisah-kisah anak muda di salah satu sekolah SMA di Solo. Ide tersebut, menurut Emil pas dengan sasaran dalam film ini, yakni anak muda. ”Mereka ini lebih fresh, jadi gampang diarahkan. Meskipun idenya serius, tapi sebisa mungkin kita buat fun,” ungkapnya.

Pemilihan jogja sebagai tempat syuting menuruit Emil ialah karena iklimnya yang bagus,”di jogja itu iklimnya cukup membantu, crewnya sudah ada, tempat-tempatnya juga mendukung,” katanya. Emil berharap film ini bisa sampai dan diterima oleh penonton, “Semoga pesannya sampai, khususnya ke generasi muda,”harap Emil.

Sementara itu, Zed Makarim, aktor yang memerankan tokoh Dito dalam film ini mengaku cukup senang bisa terlibat berperan dalam film ini. Dirinya juga berterima kasih sebab mendapat bimbingan selama proses pembuatan. “Sebagai anak muda ini saya tentu sangat tertarik dg isu korupsi, terimakasih karena saya dibimbing oleh sutradara dan aktor-aktor senior,” ujar pemuda yang akrab disapa Zed itu.

Dito sendiri Dalam film ini, bersama Alif, Nisa, Satrio, dan Bondan merupakan siswa dan siswi di salahsatu sekolah unggulan di Yogyakarta. Berawal dari keresahan Alif (Petrus Aji Santosa) pada salah satu pengumuman di majalah dinding sekolah tentang ditiadakannya wisuda kelulusan kelas III, Alif mengajak Satrio (Elang El Gibran ) dan Bondan (Kevin Kalagita) untuk mendapatkan jawaban dari kepala sekolah. Dalam perjalanan, mereka bertemu Nisa (Rahael Ketsia) yang sedang protes kepada pak Ridwan guru BP. Nisa protes terkait dihilangkannya dana mengikuti perlombaan robotik tingkat nasional yang sebelumnya sudah dijanjikan oleh wakil kepala sekolah. Alih-alih mendapat jawaban dari kepala sekolah, pak Ridwan malah menyuruh mereka untuk kembali ke ruang belajar

Dari situ, muncul pertanyaan besar kemana dana-dana tersebut disalurkan? Padahal sudah dianggarkan dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) dan dibagikan laporannya tiap tahun kepada orang tua mirid. Mereka kemudian bertekad menyelidiki dan mengumpulkan bukti-bukti terkait adanya penyelewengan dana tersebut

Harapan

Menurut Zed, korupsi itu seperti penyakit, semua orang bisa kena, apapun jabatannya. Karenanya, sebagai generasi muda, Zed berharap ada gerakan perlawanan yang dilakukan untuk melawan korupsi, “kita bisa memulai dari lingkungan terdekat, dengan mendidik kejujuran terhadap sesame keluarga, teman maupun rekan kerja. Kalau ada perilaku korupsi langsung dilawan, persis seperti judul filmnuya ‘Menolak Diam’ tegasnya. [AH]

Related Articles

Add Comment