IDEA Berikan Pelatihan Menyusun Rencana Strategis Bagi Kelompok Rentan

Category: Advokasi Hak Ekosob, Agenda Kegiatan, Aktifitas 34 0
Workshop Menyusun Rencana Strategis Bagi Mitra Sehati di Balai Dusun Mengger, Minggu (08/04)

Gunungkidul, IDEA – Untuk meningkatkan kapasitas organisasi kelompok rentan tentang manajemen keuangan publik, proses pemerintahan daerah yang inklusif, dari perencanaan sampai dengan implementasi anggarannya, IDEA Yogyakarta melalui program Advocating For Change (AFC) kembali memberikan pelatihan kepada organisasi Kelompok rentan di Gunungkidul, Minggu, (08/04). Pelatihan yang diberikan kali ini ialah tentang “Menyusun Rencana Strategis”. Bertempat di Balai Dusun Mengger, Nglipar, pelatihan ini melibatkan Mitra Sehati sebagai peserta.

Mitra Sehati merupakan organisasi kelompok rentan yang dibentuk melalui program AFC di Desa Nglipar, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul. Anggota organisasi tersebut terdiri dari warga penyandang disabilitas, warga miskin serta perempuan kepala rumah tangga.

Seperti biasa, Kelompok ini cukup antusias dalam menyambut pelatihan kaitannya dengan pengembangan kapasitas. Ketua Mitra Sehati, Suhardiyanto, dalam sambutannya berharap pelatihan ini semakin membantu anggota kelompoknya mengembagkan kapasitas, khususnya terkait penyusunan rencana strategis.

“Saya ucapkan selamat datang untuk peserta dan maaf apabila dalam menyiapkan fasilitas kurang berkenan. Semoga acara hari ini dapat berjalan dengan lancar dan bermanfaat,” ungkapnya.

Pelatihan ini sendiri merupakan kelanjutan dari pelatihan-pelatihan sebelumnya. IDEA Yogyakarta yang bekerjasama dengan Humanity Inclusion, CIQAL, serta European Union  sudah beberapa kali memberi pelatihan pengembangan kapasitas kepada Kelompok rentan seperti pelatihan Peningkatan Kapasitas Organisasi, Pelatihan Menyiapkan Dokument Anggaran yang Aksesibel serta Pelatihan Advokasi Kelompok Rentan. Semua diberikan kepada organisasi Kelompok rentan, baik di Gunungkidul maupun di Kota Yogyakarta.

Baca juga: Tiga Kelompok Rentan di Kota Yogyakarta Rumuskan Dokumen Anggaran yang Aksesibel

Ignatius Klerek Mau, Pegiat IDEA Yogyakarta sekaligus fasilitator pelatihan ini mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari yang sudah dilakukan sebelumnya, tepatnya sebulan sebelumnya.

“Sekarang kita akan belajar menyusun rencana strategis. Artinya rencana jangka panjang. Rencana yang akan dilaksanakan oleh kelompok kedepan,” kata Ignas saat memulai pelatihan.

Sebelum menyusun rencana strategis, Ignas meminta Kelompok untuk melakukan evaluasi. Menurutnya, hal tersebut penting dilakukan guna mengidentifikasi persoalan atau masalah mendasar yang dihadapi Kelompok rentan dalam menjalankan program organisasi.

“Sebelumnya, kita evaluasi dulu yang sudah dilakukan terdahulu, termasuk masalah-masalahnya. Hingga solusi yang bisa kita lakukan. Mudahnya, kita mulai dengan melihat program yang dimiliki oleh Mitra sehati, baik dari kekuatannya, kelemahannya, potensi serta ancaman yang dihadapi,” kata Ignas.

Kelompok Mitra Sehati, kata Ignas, sudah berdiri selama 1,5 tahun, tepatnya sejak 1 januari 2017. Sejauh ini sudah banyak hal yang dilakukan oleh Kelompok. Sehingga, tidak sedikit pengalaman yang diperoleh, baik pengalaman yang memberikan nilai tambah bagi organisasi, maupun yang berpotensi menjadi penghambat dalam prosesnya.

“Pemetaan masalah bisa dilakukan dengan melihat sudut pengelolaan organisasi dan proses advokasi program kerja organisasi,” imbuhnya

Identifikasi Masalah dan Evaluasi

Usai menyampaikan point-point penting diatas, peserta pelatihan langsung membentuk dua Kelompok. Keduanya membahas persoalan Mitra Sehati, baik terkait pengelolaan organisasi maupun kerja-kerja advokasi yang sudah dilakukan

Anggit Aji, mewakili kelompok satu yang membahas evaluasi pengelolaan organisasi menyampaikan banyakn hal, baik terkait pertemuan, kepengurusan hingga pengelolaan keuangan Mitra Sehati.  Hal tersebut diantaranya ialah masih adanya anggota yang tidak terbiasa menyampaikan pedapat dihadapan banyak orang/forum karena takut salah, pengambilan putusan yang masih mengikuti pimpinan, banyaknya anggota yang belum tahu tentang struktur dan pengisi kepengurusannya, pengurus yang tidak tau tugas dan tanggungjawabnya, serta tidak dijalakannya program sesuai peran seksi-seksi, sehingga kerja-kerja organisasi lebih banyak dilaksanakan oleh ketua.

Sementara untuk keuangan, sesuai pemaparan Anggit, sejauh ini sudah transparan, karena Bendahara memberikan laporan keuangan tiap kali selesai kegiatan. Penyampaian informasi sejauh ini juga diakuinya juga lancer. Meski sebagian anggota yang tidak memiliki hamdphone, informasi atau undangan terkait kegiatan kelompk disampaikan oleh anggota terdekat yang memiliki HP.

Sedangkan, Sigit Pradowo, mewakili kelompok dua yang membahas persoalan kerja-kerja advokasi Mitra Sehati juga menyampaikan banyak hal terkait pengalaman terlibat Perencanaan Pembangunan di Desa, APBDES, hingga program ekonomi untuk kelompok. Dalam paparannya, Sigit mengatakan bahwa Mitra Sehati memang diundang dalam Musrenbangdes, namun tidak diberi kesempatan menyampaikan usulan, tetapi hanya memilih prioritas usulan yang sudah ada. Persoalan lain, meski dimasukkan dalam tim perumus RKPDES, tapi tidak pernah dilibatkan dalam rapat.

Terkait APBDES, anggota Mitra sehati sudah mengetahui dokumen meski belum memahami isinya secara keseluruhan, selain karena memang ada anggota yang masih belum mendapatkan dokumentnya.

Rencana Strategis

Setelah identifikasi persoalan terkait pengelolaan organisasi dan kerja-kerja advokasi, dua kelompok tersebut lanjut membahas rencana strategis. Selain untuk pengembagan organisasi, penyusunan rencana strategis ini sekaligus sebagai upaya mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Mitra Sehati.

Berdasarakan hasil pembahasan, recana kedepan yang akan dilakiukan oleh Mitra Sehati kaitannya dengan pengelolaan organisasi diantaranya ialah mengadakan pelatihan berbicara di hadapan umum (salah satunya dengan bergantian dijadikan MC), diskusi tentang peran dan fungsi kepengurusan, reorganisasi kepengurusan, serta memberikan sanksi berupa denda kepada anggota yang tidak memberi kabar saat tidak hadir pertemuan. Denda tersebut ialah dengan menjadi MC dan member sambutan.

Sementara, rencana program dan kerja-kerja advokasi diantaranya ialah menyampaikan usulan kegiatan Mitra Sehati di tingkat Musyawarah Dusun, menyelenggarakan pelatihan bagi anggota untuk memahami APBDesa.

Terkait pemberdayaan ekonomi bagi anggota, rencana yang akan dilakukan ialah mendorong pemdes agar memenuhi program kambingisasi, pengadaan polybag beserta bibitnya yang baru, serta belajar ulang tentang pembuatan pupuk M4.

Sebagai Rencana Tindak Lanjut atas penyusunan rencana diatas, Mitra Sehati akan mengadakan pertemuan pada Minggu, (15/04) di Sekretariat. Dalam pertemuan ini akan dibahas secara detail usulan yang akan dibawa ke Musdus.

Baca juga: Cerita Sukses AFC (1): Dari Pembentukan Kelompok Hingga Terlibat Musrenbangkel

Kontributor/Editor: AH

Jadilah yang pertama membagikan kabar ini ^_^

Related Articles

Add Comment